Archives 2025

Dailami Firdaus, Peran Strategis Remaja dalam Memperkuat Pemahaman dan Pengamalan 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dailami Firdaus Anggota MPR DPD RI Provinsi DKI Jakarta menyampaikan, dalam era globalisasi yang serba cepat, peran remaja sebagai generasi penerus bangsa Indonesia sangatlah krusial dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45), Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Remaja bukan hanya sebagai penerus, tetapi juga sebagai agen perubahan yang memiliki potensi besar untuk menciptakan inovasi dan menyebarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam keempat pilar tersebut. Rabu (10/12/2025)

yaitu yang pertama, Pancasila sebagai dasar negara merupakan nilai-nilai yang harus diinternalisasi oleh setiap generasi, terutama remaja. Dalam konteks ini, remaja dapat berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang mempromosikan nilai-nilai Pancasila. Misalnya, melalui organisasi kepemudaan, mereka dapat mengadakan diskusi, seminar, dan workshop yang membahas penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami dan menerapkan Pancasila, remaja dapat menjadi teladan bagi teman-teman sebaya mereka.

Lalu kedua, UUD 45 sebagai konstitusi negara harus dipahami oleh remaja sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara. Melalui pendidikan formal maupun non-formal, remaja dapat diajarkan tentang hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Keterlibatan remaja dalam forum-forum diskusi dan debat mengenai isu-isu terkini terkait konstitusi akan meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya peran aktif dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan negara.

Selanjutnya yang ketiga, Bhineka Tunggal Ika, yang menekankan pada persatuan dalam perbedaan, sangat relevan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Remaja memiliki kesempatan untuk menjadi jembatan antara berbagai suku, agama, dan budaya di Indonesia. Melalui kegiatan sosial, seperti bakti sosial atau festival budaya, remaja dapat menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang dapat memperkuat persatuan. Hal ini juga dapat dilakukan melalui media sosial, di mana mereka dapat menyebarkan pesan toleransi dan keberagaman kepada teman-teman mereka dan masyarakat luas.

Dan terakhir, dalam konteks NKRI, remaja perlu memahami pentingnya cinta tanah air dan komitmen terhadap negara. Mereka dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung keamanan dan ketertiban, seperti pelatihan kepemimpinan atau keterlibatan dalam kegiatan relawan. Dengan mengembangkan rasa cinta terhadap tanah air, remaja akan lebih memahami tanggung jawab mereka sebagai generasi penerus yang akan meneruskan cita-cita bangsa.

Peran remaja dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Dengan semangat dan energi yang mereka miliki, remaja dapat menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI ke dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan, generasi muda tidak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan empat pilar ini, sehingga Indonesia dapat terus maju dan bersatu dalam keberagaman. Tutup Dailami Firdaus

Refleksi Akhir 2025, PITA : Pemuda Jangan Hanya Dijadikan Objek

Ketua Umum Pemuda Cinta Tanah Air, Ervan Purwanto menegaskan pentingnya peran pemuda sebagai aset strategis bangsa yang tidak seharusnya hanya dipandang sebagai objek atau komoditas.

Hal tersebut disampaikannya dalam refleksi akhir tahun 2025, menyikapi berbagai tantangan global dan dinamika sosial yang terus berkembang.

Menurut Ervan, pemuda memiliki potensi besar sebagai subjek agen perubahan dalam pembangunan nasional. Namun, hingga saat ini masih terdapat kesenjangan antara potensi tersebut dengan peran nyata yang diberikan kepada pemuda di tengah masyarakat.

“Pemuda sering kali hanya dijadikan objek program, bukan subjek pembangunan. Banyak yang tidak diberi ruang dan kepercayaan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut masa depan mereka sendiri.”

Ia menilai, kondisi tersebut memicu rasa terpinggirkan, ketidakpuasan, dan frustrasi di kalangan generasi muda. Padahal, pemuda seharusnya menjadi motor penggerak inovasi dan perubahan di berbagai sektor kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga politik.

Ervan menekankan pentingnya pemberdayaan pemuda secara menyeluruh melalui pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman, pelatihan keterampilan yang berkelanjutan, serta akses terhadap ruang-ruang partisipasi publik agar pemuda dapat menyuarakan gagasan dan aspirasinya.

“Jika pemuda diberi kepercayaan dan peran yang lebih besar, maka kontribusi positif yang dihasilkan akan sangat signifikan bagi kemajuan bangsa,” terangnya.

Ervan mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah, dunia pendidikan, swasta, maupun masyarakat sipil, untuk bersama-sama menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan pemuda.

“Pemuda tidak seharusnya hanya dimanfaatkan sebagai objek, tetapi benar-benar dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang andal dan memiliki kepekaan sosial,” tegasnya.

Ervan berharap pada tahun-tahun mendatang pemuda Indonesia dapat mengambil peran yang lebih aktif, mandiri, dan berdaya guna dalam pembangunan nasional.

Untuk itu, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus memfasilitasi, mendukung, dan memberikan kesempatan kepada pemuda agar menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul.

“Founding fathers kita, Bung Karno sudah menegaskan pentingnya serta kepercayaan terhadap pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda harus hadir sebagai bagian dari solusi. Melalui peran yang maksimal, cita-cita bersama untuk Indonesia yang lebih baik dapat terwujud,” pungkas Ervan.

Dailami Firdaus, Sinergi Lembaga Negara dan Tokoh Agama dalam Memperkuat Pemahaman 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dalam konteks keberagaman bangsa Indonesia, sinergi antara lembaga negara dan tokoh agama menjadi sangat penting untuk memperkuat pemahaman serta pengamalan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45), Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keempat pilar ini merupakan fondasi yang mengikat seluruh elemen masyarakat, dan peran tokoh agama dapat membantu mengkomunikasikan nilai-nilai ini kepada masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan akrab. Ujar Dailami Firdaus dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar di Jakarta, selasa tanggal 9 desember 2025.

Pertama, Pancasila sebagai dasar negara mengandung nilai-nilai universal yang sejalan dengan ajaran agama-agama di Indonesia. Tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan etika, yang seharusnya selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila. Dengan adanya kolaborasi antara lembaga negara dan tokoh agama, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila akan semakin mendalam dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, UUD 45 sebagai konstitusi negara memuat berbagai ketentuan yang melindungi hak asasi manusia dan kebebasan beragama. Tokoh agama dapat berperan sebagai mediator yang menjelaskan pentingnya menghormati konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui dialog antara lembaga negara dan tokoh agama, masyarakat dapat memahami bahwa UUD 45 bukan hanya sekadar aturan, tetapi juga merupakan pedoman yang mencerminkan cita-cita luhur bangsa.

Ketiga, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan yang menegaskan persatuan dalam perbedaan, sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk. Tokoh agama dapat memberikan contoh konkret tentang bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan. Sinergi ini dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial bersama, dialog lintas agama, dan pendidikan toleransi yang melibatkan masyarakat luas.

Keempat, dalam konteks NKRI, penting bagi lembaga negara dan tokoh agama untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keutuhan dan kedaulatan negara. Misalnya, tokoh agama dapat mengajak umatnya untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban, serta berkontribusi dalam pembangunan nasional, sehingga rasa cinta tanah air dapat tumbuh dan berkembang.

Diakhir pernyataannya Dailami menyiratkan pentingnya sinergi antara lembaga negara dan tokoh agama

Prof. Dr. H. Dailami Firdaus Anggota MPR DPD RI Provinsi DKI Jakarta

untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui kerjasama yang baik, diharapkan nilai-nilai Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI dapat hidup dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, menciptakan harmoni dan meningkatkan kesadaran berbangsa yang lebih kuat.

Deni Martanti, Hari Ibu dan Penguatan Perlindungan Terhadap Perempuan

Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember, bukan hanya sekadar momen untuk mengenang jasa-jasa seorang ibu, tetapi juga merupakan kesempatan untuk merefleksikan berbagai tantangan yang dihadapi oleh perempuan di negeri ini.

Deni Martanti, Pengurus Pusat Pemuda Cinta Tanah Air, menegaskan bahwa dalam konteks ditanah air, peringatan ini sangat relevan mengingat masih banyaknya isu yang melibatkan hak dan perlindungan terhadap kaum perempuan.

Kenyataan yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan masih berjuang untuk mendapatkan hak-hak dasar mereka. Dari kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi dalam pekerjaan, hingga akses pendidikan yang tidak merata, perempuan sering kali menjadi korban dari struktur sosial yang tidak adil.

Menurut Deni, situasi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Dalam pandangannya, pentingnya adanya undang-undang yang kuat untuk melindungi kaum perempuan menjadi sangat mendesak.

Undang-undang yang komprehensif dapat memberikan perlindungan hukum yang jelas bagi perempuan, mendorong kesetaraan gender, serta mendukung pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Deni berpendapat bahwa tanpa legislasi yang tegas, upaya untuk mencapai kesetaraan gender dan melindungi perempuan dari berbagai bentuk kekerasan akan sulit terwujudlah.

Deni mengajak generasi muda untuk lebih aktif dalam advokasi dan penyebaran kesadaran tentang hak-hak perempuan serta pentingnya dukungan terhadap kebijakan yang berpihak pada perempuan.

Pentingnya Hari Ibu sebagai momentum untuk menyuarakan perlunya perlindungan hukum bagi perempuan tidak bisa diabaikan.

Dengan mengedukasi masyarakat tentang hak-hak perempuan dan menuntut undang-undang yang lebih kuat, diharapkan kesadaran kolektif dapat meningkat.

Hal ini akan menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi semua perempuan di tanah air.

dr. Hj. Erni Daryanti, M.Biomed Gelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI: Memperkuat Karakter Kebangsaan Generasi Z untuk Menyongsong Puncak Bonus Demografi 2025

Kotawaringin Barat, 11 September 2025 – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), dr. Hj. Erni Daryanti, M.Biomed, hari ini menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan tema sentral “Peran Nilai-Nilai Kebangsaan dalam Mengoptimalkan Bonus Demografi” di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kotawaringin Barat.
​Kegiatan ini secara khusus menargetkan siswa-siswi usia produktif, yang merupakan kunci utama keberhasilan Indonesia memanfaatkan fase Bonus Demografi. Berdasarkan data, tahun 2025 menandai periode krusial di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) mendominasi, menjadikannya sebuah “Peluang Emas” atau window of opportunity bagi kemajuan bangsa.

Dalam pemaparannya yang inspiratif, dr. Erni Daryanti menekankan bahwa Bonus Demografi tidak akan menjadi berkah tanpa Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berkarakter kuat.
​”Kalian, para siswa MAN 1 Kotawaringin Barat, adalah representasi dari puncak Bonus Demografi. Untuk mengubah peluang ini menjadi kenyataan, kalian tidak hanya harus cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi ideologi yang kokoh. Di sinilah Empat Pilar MPR RI berperan sebagai kompas moral dan pedoman hidup berbangsa,” tegas dr. Erni Daryanti.
​Beliau menjelaskan korelasi antara Empat Pilar dengan kesiapan menghadapi Bonus Demografi:
​Pancasila: Menanamkan nilai gotong royong, keadilan sosial, dan kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai dasar etos kerja dan integritas moral agar generasi muda bebas dari korupsi dan perpecahan.
​UUD NRI Tahun 1945: Menekankan pentingnya penegakan hukum dan ketaatan pada konstitusi, menciptakan iklim yang stabil bagi investasi dan pembangunan ekonomi yang didorong oleh tenaga kerja muda.
​Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI): Menguatkan persatuan di tengah persaingan global, memastikan bahwa energi produktif tidak terbuang untuk konflik horizontal.
​Bhinneka Tunggal Ika: Melatih toleransi dan menghargai keragaman sebagai modal sosial tak ternilai untuk menciptakan kolaborasi, inovasi, dan kreativitas yang dibutuhkan di pasar kerja modern.
​Kepala MAN 1 Kotawaringin Barat, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif ini. “Tema Bonus Demografi ini sangat relevan. Kami berharap bekal Empat Pilar dari Ibu dr. Erni Daryanti akan membimbing anak-anak kami untuk menjadi generasi yang unggul, berdaya saing, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
​Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan komitmen bersama antara MPR RI, pihak sekolah, dan siswa untuk menjadikan Bonus Demografi sebagai momentum bersejarah, dengan mengimplementasikan nilai-nilai luhur bangsa dalam setiap aspek kehidupan.

Dailami ; Pentingnya Pemuda Menginternalisasi 4 Pilar Kebangsaan Dalam Rapimpurda KNPI DKI Jakarta

Jakarta, 27 September 2025 – Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DKI Jakarta menggelar Rapat Pimpinan Paripurna Daerah (Rapimpurda) pada Sabtu (27/9) di Hotel Horison Arcadia, Mangga Dua, Jakarta Pusat.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta H. Rano Karno, S.IP., Anggota DPD MPR RI Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH, LL.M, Ketua Umum DPP KNPI M. Ryano Panjaitan, bersama jajaran pengurus organisasi kepemudaan se-DKI Jakarta.

Dalam sambutannya, Prof. Dailami Firdaus menyampaikan bahwa Rapimpurda bukan sekadar forum formalitas, melainkan panggung konsolidasi, evaluasi program, dan penetapan arah gerak organisasi ke depan. Ia pun menegaskan pentingnya pemuda menginternalisasi 4 Pilar Kebangsaan – Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika – sebagai fondasi menghadapi arus globalisasi, polarisasi sosial, serta melemahnya nasionalisme.

“Pemuda hari ini harus menjadi agen perubahan, menjaga arah bangsa, dan tampil sebagai influencer nilai kebangsaan di ruang digital. Mengisi media sosial dengan pesan kebhinekaan, toleransi, dan persatuan adalah bentuk nyata perjuangan masa kini. Pemuda adalah arsitek peradaban 2045,” tegas Dailami.

Sementara itu, Ketua Umum DPP KNPI M. Ryano Panjaitan menekankan pentingnya Rapimpurda melahirkan gagasan segar dan aksi nyata. Ia menilai pemuda Jakarta tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus menghadirkan karya dan solusi nyata bagi kota dan bangsa.

Momentum Rapimpurda kali ini juga mengajak pemuda untuk bersiap menyongsong 5 abad Jakarta. Identitas kota global, menurut KNPI, tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan nilai, budaya, dan kolaborasi yang berpijak pada 4 Pilar Kebangsaan.

KNPI DKI Jakarta berkomitmen memperkuat peran pemuda agar menjadi generasi berintegritas, gotong royong, adil, dan toleran. Dengan mengamalkan 4 Pilar Kebangsaan, pemuda diyakini mampu mengawal bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Prof. Dr. H. Dailami Firdaus Anggota MPR DPD RI Provinsi DKI Jakarta

Esensi nilai pilar kebangsaan harus terus disosialisasikan kepada seluruh kalangan terutama para pemuda, selain juga masyarakat umum, agar nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat menjadi  menjadi pedoman untuk berperilaku guna mengisi perjalanan pembangunan negeri ini, itulah salah satu tujuan dan harapan daripada terselenggaranya sosialisasi nilai empat pilar kebangsaan bagi pelajar yang diselenggarakan oleh Prof. Dr. H. Dailami Firdaus Anggota MPR – DPD RI Provinsi DKI Jakarta (8/9/2025).

Dihadapan para pemuda, pelajar dan juga masyarakat umum, Prof Dailami memaparkan dan menjelaskan pentingnya nilai nilai empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI untuk bukan hanya sekedar dipelajari dan dipahami secara mendalam namun juga harus diaplikasikan atau diterepakan, karena nilai-nilai dasar bangsa yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini adalah sebuah  nilai universal yang dapat merekatkan kesatuan dan persatuan bangsa ini, serta juga menjadi pedoman dalam pembangunannya secara merata dan berkeadilan.

Melalui sosialisasi ini maka pemahaman para pemuda, pelajar dan masyarakat umum diharapkan menjadi pribadi yang kuat,  tangguh, cerdas serta memiliki jiwa solidaritas antar sesama dan tentunya semakin menguatkan rasa patriotism didalam dirinya. Ini sangat penting untuk menghadapi dinamika perkembangan zaman dan juga menyaring paham paham asing yang saaat ini sangat mudah masuk kedalam negeri.

Diujung saya titipkan kembali kepada para peserta yang hadir hari ini untuk senantiasa belajar dan memahami nilai-nilai kebangsaan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari hari, sehingga wilayah terkecil kita yaitu keluarga, lingkungan, daerah dan negeri tercinta kita semua Indonesia tetap bersatu, berdaulat, aman dan damai. Tutup Prof Dailami.

Carel Simon Petrus Suebu, SE : “Sebagai generasi muda, kalian adalah harapan bangsa. Memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,”

 

Sentani, 29 Juli 2025 – Dalam rangka memperkuat pemahaman dan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan, SMA YPPK ASISI SENTANI, Kabupaten Jayapura, mengadakan acara sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2025 dan dihadiri oleh Kepala Sekolah, para guru, serta Siswa Siswi SMA YPPK ASISI SENTANI. Pemateri dalam acara ini adalah Anggota DPD RI, Bapak Carel Simon Petrus Suebu, S.E., SekaligusWakil Ketua kmite I DPD RI yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan di Papua.

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda, khususnya siswa SMA YPPK ASISI SENTANI. Dalam era globalisasi yang semakin maju, pemahaman yang mendalam tentang pilar-pilar kebangsaan menjadi sangat penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala SMA YPPK ASISI SENTANI, yang menyampaikan pentingnya kegiatan ini bagi siswa. Beliau menekankan bahwa pemahaman yang baik tentang 4 Pilar Kebangsaan akan membentuk karakter dan identitas siswa sebagai generasi penerus bangsa. ujar Kepala Sekolah dalam sambutannya.

Setelah sambutan dari Kepala Sekolah, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Bapak Carel Simon Petrus Suebu, S.E. Dalam presentasinya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai masing-masing pilar kebangsaan.

“Selamat pagi, anak-anak muda yang penuh semangat! Hari ini kita berkumpul untuk membahas sesuatu yang sangat penting bagi masa depan kita sebagai bangsa. 4 Pilar Kebangsaan bukan hanya sekadar teori, tetapi merupakan fondasi yang harus kita pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan kita, semuanya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan,” ungkap Bapak Carel.

Beliau juga menekankan pentingnya peran siswa dalam menjaga dan menerapkan nilai-nilai tersebut. “Kalian adalah generasi penerus yang akan menentukan arah bangsa ini ke depan. Oleh karena itu, penting bagi kalian untuk memahami dan mengamalkan 4 Pilar Kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah agen perubahan yang positif di lingkungan kalian,” tambahnya.

Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Siswa-siswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan seputar materi yang telah disampaikan. Diskusi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih memahami dan mendalami setiap pilar kebangsaan.

“Bagaimana cara kita sebagai siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?” tanya salah satu siswa. Bapak Carel menjawab, “Implementasi nilai-nilai Pancasila bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti menghormati perbedaan, bekerja sama dalam kelompok, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekolah.”

Acara sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di SMA YPPK ASISI SENTANI ditutup dengan harapan agar semua peserta dapat menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Kepala Sekolah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Carel Simon Petrus Suebu, S.E. atas pemaparan yang sangat bermanfaat dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan di masa mendatang.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi awal yang baik untuk membangun kesadaran kebangsaan di kalangan siswa. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa ini demi masa depan yang lebih baik,” tutup Kepala Sekolah.

Dengan diadakannya sosialisasi ini, diharapkan siswa SMA YPPK ASISI SENTANI dapat menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.

Gen Z Harus Miliki Wawasan Kebangsaan untuk Hadapi Bonus Demografi dan Geopolitik Global

Gen Z Harus Miliki Wawasan Kebangsaan untuk Hadapi Bonus Demografi dan Geopolitik Global

Pangkalan Bun, 30 Juli 2025


dr. Hj. Erni Daryanti, M.Biomed, Anggota MPR RI sekaligus Anggota DPD RI Provinsi Kalimantan Tengah, melaksanakan kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di SMK Muhammadiyah, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, pada Selasa (30/7).

Dalam kesempatan tersebut, dr. Hj. Erni Daryanti menyampaikan pentingnya pemahaman 4 Pilar MPR RI, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika, sebagai fondasi dalam membangun generasi bangsa yang tangguh.

Dengan mengangkat tema “Gen Z Harus Memiliki Wawasan Kebangsaan yang Lebih Baik Lagi untuk Menghadapi Tantangan Bonus Demografi dan Situasi Geopolitik yang Tidak Menentu”, beliau menekankan bahwa generasi muda, khususnya Gen Z, akan menjadi penentu masa depan bangsa.

“Bonus demografi yang kita miliki harus menjadi peluang emas, bukan justru menjadi beban bangsa. Untuk itu, Gen Z perlu memiliki wawasan kebangsaan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh arus negatif global dan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan Indonesia,” tegas dr. Hj. Erni Daryanti.

 

Selain itu, beliau juga menyoroti tantangan situasi geopolitik dunia yang dinamis, yang menuntut generasi muda memiliki kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan nasionalisme yang kokoh.

Kegiatan sosialisasi ini disambut antusias oleh para siswa dan tenaga pendidik SMK Muhammadiyah Pangkalan Bun. Mereka aktif berdiskusi dan menyampaikan pandangan mengenai bagaimana 4 Pilar MPR RI dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun dalam dunia digital yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan Gen Z.

Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda di Kotawaringin Barat, khususnya siswa SMK Muhammadiyah, semakin memahami pentingnya menjaga persatuan bangsa serta siap menghadapi tantangan zaman dengan semangat kebangsaan yang kokoh.

Dailami Firdaus : Membangun Karakter Bangsa melalui Peran Pemuda dalam Menguatkan 4 Pilar Kebangsaan

Dalam rangka memperkuat karakter bangsa dan memperkokoh semangat kebangsaan, Dailami Firdaus, anggota MPR RI dan DPD RI Provinsi DKI Jakarta, menggelar kegiatan sosialisasi 4 pilar kebangsaan bertajuk “Membangun Karakter Bangsa: Peran Pemuda dalam Menguatkan 4 Pilar Kebangsaan” yang diselenggarakan pada tanggal 29 Juli 2025.

Kegiatan ini diikuti oleh pemuda dan masyarakat, melalui kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran serta semangat pemuda dan masyarakat dalam menjaga dan mengamalkan empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dailami Firdaus menerangkan mengenai pentingnya peran pemuda dalam memperkuat karakter bangsa serta menjaga keutuhan NKRI. Ia mencontohkan tokoh tokoh muda pada saat berjuang merebut dan merumuskan kemerdakaan pada saat itu.

Peran pemuda begitu vital dalam proses menuju Indonesia merdeka. Pemuda memegang peran penting dalam masa perjuangan melawan penjajahan, baik melalui perlawanan fisik juga perlawanan diplomatik. Ujarnya

Pemuda untuk terinspirasi oleh tokoh-tokoh pahlawan bangsa karena mereka adalah teladan dalam semangat juang, cinta tanah air, dan pengorbanan. Mendengar dan mengetahui kisah para pahlawan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan membentuk karakter yang baik pada generasi muda.

Oleh karena itu melalui kegiatan sosialisasi empat pilar ini, diharapkan generasi muda dapat menjadi pionir dalam pembangunan bangsa dan pelestari nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pejuang dan pendiri bangsa terdahulu, karena tugas kita semua dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan, akan banyak menemukan hambatan dan tantangan serta rintangan yang lebih kompleks. Tutup Dailami Firdaus.