BANG DAILAMI, SOSIALISASI 4 PILAR MENGUATKAN JATI DIRI BANGSA

Jakarta – Prof. Dr. H. Dailami Firdaus Anggota MPR DPD RI dapil Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa penempatan Identitas nasional adalah suatu hal yang sangat penting, terutama disaat ini, selasa (18/7/2023).

Para pemuda harus dapat memfilter secara baik dan utuh serta memilih dan memilah mana yang sesuai dengan karakteristik daripada budaya bangsa dan yang mampu diterima masyarakat luas. Pemikiran pemikiran luar yang begitu agressif masuk dengan mudah kedalam bisa diibaratkan laksana dua mata pisau yang sangat tajam.

Bila kita salah menyerap dan mengunakan maka hasilnya jelas akan berdampak negatif bagi diri kita dan masyarakat tentunya. Oleh karena itu sosialisasi dan penanaman pemahaman kehidupan berbangsa bernegara serta bermasyarakat harus terstruktur dan sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan bhineka tunggal ika, jika ini semua dijalankan selaras maka apapun terjangan dari pemikiran dan ide ide luar akan dapat mudah tersaring sesuai dengan kebutuhan masyarakat kita. Ujar Bang Dailami

Kita dapat memulai pembentengan guna menjalankan apa yang terkandung dalam Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dengan hal sederhana, yaitu dengan membaca buku-buku tentang perjuangan para pahlawan, lebih mencintai produk lokal dengan cara bangga menggunakan produk buatan local.

Selain itu kita juga dapat mempelajari dan mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada pada daerah tempat tinggal masing-masing agar budaya tersebut tetap lestari dan tidak luntur atau bahkan hilang dimakan oleh zaman. Ini semua adalah tugas kita terutama para generasi berikutnya, agar tidak terjebak kepada budaya luar yang begitu terlihat mengasyikan dan mengoda, sehingga melupakan jati diri asli dari bangsa sendiri. Tutup Bang Dailami

HJ. YUSTINA, Sosialisasi Empat Pilar Bersama Kader KB, Pendamping Stunting dan Keluarga Senam Tera

Kotawaringin Barat – Anggota MPR RI Dra. Hj. Yustina Ismiati, S.H., M.H menggelar sosialisasi 4 pilar kebangsaan bagi pengurus dan kader Kader KB, Pendamping Stanting dan Keluarga Senam Tera se Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin (26/06/2023) .

Selaku anggota MPR DPD RI Hj. Yustina, menyampaikan harapan kepada seluruh kader-kader KB, Pendamping Stanting dan Keluarga Senam Tera untuk mengikuti dengan seksama sosialisasi kebangsaan terkait Pancasila, UUD 1945, NKRI dan bhinneka tunggal ika ini.

Kegiatan ini bukan hanya sekedar memberikan informasi dan para hadirin mendengarkan, namun juga harus memahami serta dapat mengaplikasikannya secara sungguh-sungguh dalam kehidupan bermasyarakat. Semua yang hadir pada hari ini memiliki kewajiban yang sama yaitu mensosialisasikan dan menerapkan nilai yang terkandung dalam pancasila. Ujar Yustina.

Ketika semua dilakukan dengan penuh kesadaran dan mengedepankan hati nurani saya yakin kita semua akan mampu mengatasi segala permasalahan didalam kehidupan bermasyarakat, seperti Stunting dan yang lainnya. Kepekaan dalam bermasyarakat yang akan membuat kita memiliki empati dan simpati didalam kehidupan bermasyarakat akan semakin menumbuhkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan serta mengedepankan musyawarah didalam setiap pengambiilan keputusan, sehingga akan terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tutup Yustina.

Berawal dari Birokrat, Pj Gubernur Heru Budi Hartono Dinilai Sebagai Role Model ASN Jakarta

Jakarta – Masa transisi kepemimpinan Gubernur Jakarta, kini sudah berjalan 260 hari. Penjabat (Pj) Gubernur yang menggantikan posisi Anies Baswedan sementara dipegang oleh Heru Budi Hartono, salah satu ASN terbaik di lingkungan  Pemprov DKI Jakarta.

Sepak terjangnya di pemerintahan tidak perlu diragukan lagi. Presiden mengamanatkan, Kepala Sekretariat Kepresidenan (Kasetpres), Heru Budi Hartono yang semula merupakan birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memimpin Jakarta kini.

Kariernya sebagai pejabat Pemprov DKI dimulai dari Wali Kota Jakarta Utara kemudian diangkat menjadi Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri (KDH KLN) era Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan sejumlah jabatan birokrat lain di Pemprov DKI Jakarta hingga sekarang menjadi Pejabat Gubernur DKI Jakarta.

Pengurus Pusat Pemuda Cinta Tanah Air Deni Martanti mengatakan, Pj Gubernur Heru Budi Hartono bisa disebut sebagai role model ASN DKI. Sebab, beliau lahir dari birokrat seperti halnya Gubernur Fauzi Bowo kala itu.

Tak mudah untuk mencapai tangga kekuasaan seperti sekarang dari sebelumnya seorang pejabat birokrat yang mengabdi sebagai putra daerah.

Namun Heru Budi Hartono membuktikan, bahwa karier ASN bisa mencapai tingkat tertinggi dalam birokrasi.

“Beliau membuktikan, untuk mencapai sebuah tangga kekuasaan, jalurnya bisa dari birokrasi. Undang-undang juga membolehkan, nggak hanya jalur politik,” ujarnya dalam diskusi media yang diselenggarakan oleh Kosadata.com, dengan tema Menakar Sepak Terjang Heru Budi Hartono, Reformasi Birokrasi Mencetak Role Model ASN Jakarta, di Hotel D’Arcici Cempaka Putih, Rabu (12/7/2023).

Diskusi media yang diselenggarakan oleh Kosadata.com, dengan tema Menakar Sepak Terjang Heru Budi Hartono, Reformasi Birokrasi Mencetak Role Model ASN Jakarta

Menurut Deni Martanti, Jakarta membutuhkan pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat,  dan Heru Budi Hartono membuktikan bisa melakukannya.

Selain itu, sebagai Pj Gubernur Heru Budi Hartono juga bisa menjadi penjembatan kebijakan daerah dengan pemerintah pusat.

“Beliau ini punya kelebihan, bisa mengkomunikasikan birokrasi yang berkaitan dengan pusat kepada daerah. Tidak banyak yang bisa multi tasking, tapi saya melihat pak Heru cukup mumpuni, mungkin beliau sudah melanglang buana, track record panjang. Kita bisa liat apa yang dia kerjakan cukup baik,” ujarnya.

Selain itu, di masa transisi kepemimpinan Jakarta yang sangat berkembang pesat Heru Budi Hartono cukup adaptif dan menyesuaikan diri dalam pekerjaannya.

“Jarang ada yang bisa menyesuaikan diri dalam jabatannya di dua tempat yang berbeda,” tutur Deni.

Sejauh ini, ungkapnya, kebijakan Pj Gubernur Heru Budi Hartono masih pro kepada masyarakat.  “Beliau memiliki komunikasi yang baik kepada masyarakat,” katanya.

Ketua Umum Fakta Ary Subagio menjelaskan, Pj Gubernur Heru Budi Hartono bisa melakukan terobosan yang hebat di Jakarta dengan memangkas hal tidak penting yang dalam 5 tahun terakhir mendarah daging yakni keberadaan TGUPP.

Heru Budi Hartono juga dianggap cukup berani menjalankan kebijakan anti mainstream seperti sebelumnya.

“Kedua bagaimana membangun komunikasi, kalau kita mau baik pelayanan publik penting diutamakan. komunikasi publik, mendengarkan dan menjalankan apa yang diinginkan warga. Pak Heru bisa belajar dari Pak Ahok dan pak Foke yang disegani,” katanya.

Akademisi dan juga penulis buku, Deni Gunawan menjelaskan, bahwa Pj Gubernur Heru Budi Hartono bisa menjadi role model birokrat di DKI Jakarta.

Melalui dirinya, ASN DKI Jakarta punya harapan jenjang karier tertinggi di pemerintahan. “Bisa, ini terjadi juga pada pak Foke. ASN bisa mencapai puncak karier tertinggi. Tinggal jalurnya seperti apa,” ucap Deni.

Sepak terjangnya di pemerintahan tak perlu diragukan lagi, sejak Wali Kota hingga seperti sekarang merupakan tangga karier yang merangkak cukup sulit untuk mencapainya.

“Tentu nggak mudah sampai kepada PJ Gubernur Jakarta. Karena Jakarta kan sorotan, artinya meskipun ada keterikatan pak Jokowi (Presiden) dan pak Heru, nggak akan segampang itu pak Jokowi memberikan kepercayaan kepada pak Heru,” kata Deni.

Menurut Deni, Pj Gubernur Heru Budi Hartono paham bagaimana mengelola dan mengorkestrasikan birokrat di Jakarta.

Sebelumnya beliau pernah bilang dalam beberapa media, agar eksistensi dinas-dinas di Jakarta harus difungsikan sebaik mungkin.

“Pak Heru memahami betul kebutuhan eksistensinya. Beliau akan menempatkan birokrat-birokrat itu untuk menyelesaikan masalah masyaraka,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Umum Rumah Aktivis Institute, Andri Nurkamal, bahwa  Heru Budi Hartono bekerja dengan berorientasi pada pelayanan. “Beliau berorientasi pada pelayanan masyarakat,” tuturnya.

Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, peran pemuda dalam mengamalkan Empat Pilar

Prof. Dr. H. Dailami Firdaus Anggota MPR DPD RI Dapil DKI Jakarta mengelar sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara hari ini, Sabtu (24/06/2023). Dalam kesempatan itu, Bang Dailami sapaan akrab Prof. Dr. H. Dailami Firdaus menekankan Peran Pemuda atau Milenial dalam mengimplementasikan nilai-nilai pancasila sebagai dasar dari pembangunan bangsa.

Disinilah pentingnya peran pemuda dalam mengamalkan pengetahuan, khususnya pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila. Karena dalam jiwa pemuda memiliki potensi yang besar dan pemuda memiliki semangat yang sangat besar dan selalu berapi-api. Karena itu bila semangat bercampur dengan pengetahuan dan diimplementasikan melalui tindakan maka akan terciptalah suatu perubahan kearah lebih baik. Pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) ini merupakan suatu keniscayaan, bahkan dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia, telah tertorehkan beragam peran pemuda dalam hal perubahan.

Kita sama-sama ketahui bagaimana peran pemuda begitu penting dalam penyatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu melalui lahirnya Sumpah Pemuda. Lalu dalam kemerdekaan, para pemuda mengambil peran yang sangat krusial yang dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok, yang disebut sebagai penculikan dua tokoh, Sukarno dan Mohamad Hatta oleh sejumlah pemuda antara lain Chaerul Saleh, Wikana, dan Soekarni. Keduanya diculik dari Jalan Menteng 31, Jakarta menuju Rengasdengklok, Karawang. Penculikan tersebut berlangsung sekitar pukul 03.00 dini hari, sehari menjelang kemerdekaan Indonesian dimana golongan pemuda menginginkan supaya proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melewati PPKI yang diasumsikan sebagai badan hasil bentukan pemerintah Jepang. Ucap Bang Dailami

Dengan mengikuti sosialisasi empat pilar kebangsaan ini, saya berharap besar agar para pemuda dapat mewujudkan segala nilai yang terkandung didalamnya mulai dari lingkungan terdekat dalam kehidupan sehari-hari guna menanamkan wawasan kebangsaan dan rasa cinta tanah air yang menjadi modal dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tutup Bang Dailami

Bendahara umum Pengurus Pusat Pemuda Cinta Tanah Air ( PITA ), me-launching Borneo Walet

JAKARTA – Bertepatan dengan hari jumat (23/6/2023), Bendahara umum Pengurus Pusat Pemuda Cinta Tanah Air ( PITA ) yang juga seorang enterpreneur wanita muda Deni Martanti yang merupakan seorang wholesaler Jabodetabek me-launching Borneo Walet untuk memenuhi kebutuhan pasar yang dapat mencakup area JABODETABEK.

“Dengan semangat membangun negeri, sebagaimana selaras dengan apa yang menjadi tagline dari Pemuda Cinta Tanah Air yaitu Menumbuhkembangkan Potensi Negeri , saya berharap dengan hadirnya produk Borneo Walet ini tidak hanya mampu diterima oleh pasar namun juga menginspirasi para pelaku usaha terutama yang pemula, agar berani untuk berbuat dan berkreasi.

Produk yang memiliki 15 manfaat bahkan lebih tersebut, sudah bisa dipesan melalui marketplace, dan bisa juga melalui akun instagram, @denimartanti.

Borneo Walet

Menurut Deni, Borneo Walet diproduksi secara higienis yang sudah BPOM dan bersertifikat halal MUI tentunya.

“Dengan bahan pilihan dan bebas bahan pengawet dimana Borneo Walet sudah bisa dikirim keluar daerah pulau Jawa,” tuturnya.

“Saya mengajak masyarakat untuk menyayangi tubuh sehingga kita bisa menyayangi orang lain, bagaimana kita bisa mengekspresikan rasa sayang kita jika tubuh kita tidak sehat,” imbuh Deni yang juga Bendahara Umum DPP Pemuda Cinta Tanah Air (PITA) itu mengakhiri keterangan.

HJ. YUSTINA: IBU IBU HARUS MENJADI LOKOMOTIF 4 PILAR

Hj. Yustina Ismiati, S.H., M.H Anggota MPR DPD RI Provinsi Kalimantan Tengah menegaskan sebagai perwakilan daerah tidak hanya merespon aspirasi dari masyarakat di dapil saja namun juga turut mensosialisasikan Empat Pilar kehidupan bermasyarakat yaitu Pancasila, UUD tahun 1945, NKRI (sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara), guna memperkuat rasa kecintaan terhadap bangsa dan Negara sehingga mampu mewujudkan harapan masyarakat didaerah. Kamis ( 18/5/2023 )

Melalui sosialisasi ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai perjuangan dan rasa nasionalisme didalam masyarakat. “Kita akan bersama sama menggali nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga akan terwujud suatu tujuan sebagaimana sila ke 5 yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Ujar Hj. Yustina

“Ketika masyarakat dapat memahami secara utuh, menyeluruh dan berkelanjutan, maka diharapkan bisa menjadi dasar dalam mewujudkan masyarakat yang lebih baik, harmonis, aman, damai dan sejahtera.”

Tentunya saya berharap agar Pasukan Kuning seKecamatan Arut Selatan, Kab. Kotawaringin Barat dapat menjadi lokomotif yang terus mensosialisasikan dan mengamalkan segala apa yang tertuang didalam Empat Pilar kehidupan bermasyarakat yaitu Pancasila, UUD tahun 1945, NKRI (sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara), sebagai bentuk komitmen untuk mennyelamatkan generasi mendatang dari gempuran informasi dan pemikiran asing atau luar, yang jelas bertujuan untuk merusak tatanan kehidupan bermasyarakat diwilayah ini khususnya dan Indonesia umumnya.

M. RAKHMAN, KERAGAMAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN WUJUD PANCASILA

Bertumbuhnya pondok pesantren dan juga minat untuk mengenyam pendidikan di pondok pesantren sangatlah luar biasa. Pendidikan keagamaan yang menjadi dasar di dalam pesantren dan keberagaman santri yang berasal dari berbagai daerah sangatlah mencerminkan nilai nilai yang terkandung didalam pancasila. Ujar H. Muhammad Rakhman, SE., ST., MA ( 25/5/2023 )

Tentunya sistem yang diterapkan didalam pondok pesantren, saya menyakini mampu meredam polarisasi kedaerahan didalamnya, walaupun ada saja oknum yang menyusupi sehingga ada juga santri yang memiliki sikap dan cara pandang ekstrim dalam beragama. Namun saya melihat itu hanyalah segelintir saja dan masuk kepada ranah pribadi sisantri tersebut saja.

Rakhman menambahkan, dalam perkembangan saat ini terkait mekanisme pendidikan dan pengelolaan pesantren, memang selalu mengikuti perkembangan jaman, para santri tidak hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman keagamaan saja, namun juha harus dibarengi dengan wawasan mengenai teknologi dan kreatifitas serta hal hal lain yang tentunya bertujuan sebagai bekal sisantri setelah sudah selesai menyelesaikan pendidikannya nanti.

Saya sangat yakin di lingkungan Pondok Pesantren Haddadil Qulub sangatlah memahami pilar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika, tentunya bukan sekedar pemahaman tetapi juga telah mengimplemetasikannya secara utuh.

Karena kita semua sebagai santri sangatlah menyakini hubbul-wathan minal-iman yaitu mencintai bangsa merupakan tanda keimanan. Oleh karena itu kecintaan kita para santri terhadap bangsa dan Negara janganlah disangsikan dan harus diingat Perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tidak lepas dari peran para ulama dan para santri. Tutup M. Rakhman Angggota MPR DPD RI Provinsi Kalimantan Tengah.

Bang Dailami, Peran Perempuan dalam Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

Jakarta — Bagi masyarakat, Pancasila sebagai Dasar Negara sudah diterima sebagai sesuatu yang final meski masih banyak pelanggaran terhadapnya. Adanya gap antara de jure dan de facto dari Pancasila menyadarkan kita bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila sesungguhnya lebih tepat dimaknai sebagai tantangan untuk terus membuktikan kesaktian Pancasila di tengah rongrongan ideologi kanan baik yang berbasis agama maupun pasar bebas. Salah satu tantangan adalah membuktikan bahwa Pancasila adalah ideologi yang responsif terhadap tuntutan atas kesetaraan gender dibandingkan dua ideologi tersebut. hal ini yang mendasari pelaksanaan kegiatan Sosialisasi 4 Pilar pada tanggal 24 Mei 2023 dengan mengambil tema “Peran Perempuan dalam Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari”.

Perempuan menjadi pusat karena mereka mengatur rumah tangga besar (suku maupun bangsa) terutama berkaitan dengan pemberian makanan kepada bayi dan anak-anak. Karena mereka mengontrol alat-alat produksi maka sebenarnya perempuan adalah produsen.

“Sebagai Seorang Perempuan yang tumbuh kuat diharapkan tidak berpuas diri dengan keadaan saat ini. Dalam arti, tiap perempuan diminta agar tidak terpaku pada tugas keseharian dan stigmatisasi masyarakat tentang peran perempuan yang hanya bertugas mengurus rumah tangga saja. Melainkan mesti menjadi penggerak dan ambil bagian untuk membangkitkan serta menyuarakan kondisi ril atau permasalahan sosial di masyarakat” Ungkap Prof. Dailami Firdaus Anggota MPR RI Provinsi DKI Jakarta

Peran wanita di era masa kini disebut masih belum optimal dalam menegakkan serta mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Momentum peringatan hari kelahiran Pancasila 1 Juni nanti hendaknya dijadikan ajang bagi kaum perempuan agar mampu memberikan sumbangsih lewat caranya masing-masing demi terpatrinya Pancasila dalam diri individu terutama perempuan.

“Peringatan Hari Pancasila bisa menjadi momentum bersama kaum perempuan untuk bisa mengimplementasikan pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara” Tambah Dailami Firdaus dalam paparan tersebut.

Ada beberapa sila yang bisa diimplementasikan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan mesti ikut serta dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat Pancasilais kepada anggota keluarga terutama anak-anak. Sejak kecil, nilai dari tiap sila bisa diajarkan kepada anak, agar terbiasa dan mampu bertindak sesuai dengan kandungan luhur yang tertanam di Pancasila itu.

“Peran ibu dinilai krusial sebagai pendidik nilai-nilai Pancasila dalam lingkup keluarga. Hal itu berpengaruh terhadap terbentuknya sumber daya manusia berkualitas. Perempuan mendidik anaknya sejak dalam kandungan hingga lahir mengenai apa yang baik dan tidak. Hal itu didasarkan pada nilai-nilai Pancasila” Tutup Senator Asal DKI Jakarta ini